Ada sedikit anomali di zaman yang serba maya saat ini tentang hari pahlawan. Memang benar, di masa masa millenium ini hari pahlawan begitu meriah di ucapkan di mana mana, media masa, media online, semua begitu ramai. Tapi mungkinkah cuman itu yang kita dapat di hari pahlawan? Tidak, saya kira, kita bisa mendapatkan lebih banyak.
10 November, di tetapkan sebagai hari pahlawan bukan tanpa sebab. Hari itu, tak terhitung banyaknya nyawa yang berjuang mati mempertahankan kemerdekaan dari ganasnya meriam dan tembakan. Hari itu, semua orang hanya bisa berharap harap cemas. Akankah kita, menjadi bangsa budak lagi, ataukah kita bisa menyelesaikan hari itu dan tetap merdeka. Tak terhitung kerugian yang bersifat materil saat itu. Kota yang hancur berantakan. Badan yang berlumuran darah. Keluarga yang tercerai berai. Dan banyak lagi kekacauan yang terjadi. Hari Pahlawan adalah titik penentu, darah kita akan mengalir kemana. Menjadi bangsa budak, atau merdeka dengan pedih.
Waktu itu, tidak ada yang tahu hasilnya akan seperti apa. Semua begitu gamang. Tapi satu hal yang terus di kumandangkan. Berjuang !
Sampai saat ini, saya begitu yakin. Orang-orang yang kadung terlanjur mati tidak akan tahu bangsa kita akan mengalir ke arah seperti ini. Mereka mungkin akan bingung, ada kedamaian di Indonesia. Merdekalah, lagi, saat itu pula.
Sekarang, tepat di masa yang begitu segala terasa mudah dengan dua jempol di atas layar. Kita bukan hanya dibutakan dengan kemudahan. Kita juga sudah di penjara kesenangan. Pejabatnya di penjarakan jabatan - lalu main mata. Anak mudanya di manjakan maya, lalu lupa dunia.
Akhirnya, aku hanya punya bertanya pada diriku sendiri.
Masih pantaskah aku bersorak, hari ini adalah hari pahlawan sedang aku hanya diam dalam kamar dan penjaraku?
10 November 2017
Kominfo Hima-TH
Sabtu, 11 November 2017
Refleksi Hari Pahlawan
Senin, 18 September 2017
Rapat Kerja Bulanan HIMA TH
Pengurus HIMA-TH melakukan Rapat Kerja bulanan. Untuk kali ini, Rapat Kerja di laksanakan pada Hari Senin, 18 September 2018. Rapat kerja di lakukan di Gedung FUAD lantai 1
Rapat kerja bulanan ini bertujuan untuk mengakusisi, mengevaluasi serta menguatkan program program yang sudah di setujui di Rapat Kerja di awal kepengurusan Ketua Umum Ulfah Fadhilah. Rapat Kerja bulanan ini juga bertujuan untuk membangun kembali kedekatan emosional antar pengurus sebagai pelaksana program.
Prayoga Menuturkan : "Rapat Kerja Bulanan ini sangat di butuhkan, apalagi dengan banyaknya kegiatan dan kesibukan antar pengurus anggota yang berbeda beda, rapat dan silaturahmi menjadi sesuatu yang wajib. Organisasi apapun, ruhnya adalah Silaturahmi dan membangun kedekatan, baik emosional maupun Profesional."
Evaluasi dan penguatan program ini terlaksana setidak tidaknya dua bulan sekali. Selain tentunya rapat kerja ketika melaksanakan satu program.
Di harapkan, dengan adanya rapat kerja bulanan ini dapat mengoptimalkan kinerja para pengurus dalam menjalankan semua programnya.
OMB Jurusan IAT dan ILHA
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ
اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Kegiatan ini merupakan Orientasi Mahasiswa Baru Jurusan Ilmu Al Qur’an dan
Tafsir serta Ilmu Hadits, adapun waktu pelaksanaannya selama 3 hari 2 malam yang
bertempat di Desa Linggasana.
Kegiatan OMB ini betujuan untuk mengenalkan selayang pandang
mengenai jurusan IAT dan ILHA, dalam kegiatan tersebut juga dijelaskan mengenai kepengurusan
Himpunan Mahasiswa Tafsir Hadits serta FKMTHI.
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan tali silaturahim sesama mahasiswa
terjalin dengan erat dan kuat. Adapun jumlah
mahasiwa baru setiap tahunnya bertambah , sehingga terlihat sudah banyak orang
yang tertarik untuk masuk jurusan IAT maupun ILHA. Meskipun jurusan ILHA baru dibuka,
akan tetapi minat untuk masuk jurusan ini cukup baik dan banyak.
Kegiatan OMB ini merupakan gerbang awal untuk mahasiswa IAT maupun ILHA untuk
mengetahui kegiatan apa saja yang biasa dilakukan oleh anggota HIMA-TH.
Tidak hanya pemberian materi saja yang disampaikan dalam
kegiatan ini, tetapi ada juga penampilan-penampilan dari para peserta, ini menjadikan peserta aktif dan interaktif.
Kegiatan ini terselenggara berkat kerja keras semuanya. Semua peserta terlihat mengikuti kegiatan OMB ini dengan senang hati. OMB ini diyakini bisa menjadi jalan untuk sosialisasi dan bersosial dengan baik.
Senin, 28 Agustus 2017
Kisah Alqur'an: Adam Dan Hawa
Kisah Alqur'an: Adam Dan Hawa
Kisah yang akan kami
paparkan dalam tulisan ini adalah kisah dua insan ciptaan Allah SWT yang
diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Adam dan Hawa merupakan
makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah SWT dengan nama manusia.
Diawali dengan
penciptaan Adam oleh Allah SWT. Sebagaimana yang tersurat dalam firman-Nya
dalam Q.S. al-Hijr (15): 28-29
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ
لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu Berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku maka tunduklah kepadanya dengan bersujud.”
Allah SWT
mengagungkan Adam dengan menyebutkannya dihadapan malaikat sebelum
penciptaannya dan memuliakan Adam dengan memerintahkan para malaikat untuk
bersujud kepadanya.[1]
Padahal Adam hanya diciptakan dari tanah sedangkan malaikat diciptakan dari
cahaya. Tapi karena ketundukkan dan kepatuhan malaikat kepada Tuhannya maka
tidak menjadi masalah bagi mereka untuk bersujud kepada manusia pertama ciptaan
Allah.
Adam diciptakan oleh
Allah dan ditempatkan disurga, namun pada saat itu Adam merasa kesepian, karena
tidak ada teman yang sejenis dengannya. Oleh karena itu, Allah menciptakan Hawa
sebagai teman sekaligus istri yang akan senantiasa menemani Adam sampai akhir
hayatnya. Dan penciptaan Hawa ini tanpa sepengetahuan Adam. Sebagaimana yang
tertulis dalam buku Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Kaśir, beliau dalam bukunya
menceritakan:[1]
Ketika Adam ‘alaihis
salam sendirian di syurga para malaikat, Alloh pun menciptakan pasangannya, yaitu
seorang wanita. As-Sudi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa
shahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam lainnya, bahwa mereka bercerita :
“Ketika Iblis telah dikeluarkan dari syurga dan Adam telah tinggal di syurga,
maka Adam pun kesepian di dalamnya, tidak ada pasangan yang dia bisa menjadi
tentram kepadanya. Ke-mudian Adam tertidur, setelah bangun di sebelah kepalanya
ada seorang wa-nita yang duduk, yang Alloh ciptakan dari tulang rusuk Adam.
Adam berta-nya : “Siapa kamu ?” Wanita tersebut menjawab : “Seorang wanita.”
Lalu Adam bertanya lagi : “Untuk apa kamu diciptakan?” Wanita itu menjawab :
“Agar kamu menjadi tentram kepadaku.” Kemudian para malaikat melihat kepadanya
dan berkata : “Siapa namanya, wahai Adam ?” Adam menjawab : ”Hawa.” Para
malaikat bertanya : “Kenapa engkau namai Hawa ?” Adam menjawab : “Karena dia
diciptakan dari sesuatu yang hidup.” Hawa selaku wanita pertama diciptakan oleh
Alloh ta’ala dari tulang rusuk Adam ‘alaihis salam sebagaimana sabda Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam[2]
:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ
وَمُوسَى بْنُ حِزَامٍ قَالَا حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ
عَنْ مَيْسَرَةَ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ
أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ
وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ[3]
“Telah
menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Musa bin Ḥizam keduanya berkata telah
menceritakan kepada kami Ḥusain bin ‘Ali dari Zaidah dari Maisarah al-Asyja’i
dari Abi Ḥāzim dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, bila isa menyaksikan sautu
perkara hendaklah berkata yang baik atau diam. Berilah wasiat kepada kaum
wanita karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling
bengkok adalah yang paling atas. Bila kamu hendak meluruskannya maka kamu bisa
mematahkannya, namun bila kamu membiarkannya maka dia akan selalu bengkok. Maka
berilah wasiat kepada wanita.” (H.R. Bukhari)
Setelah
diciptakan keduanya tinggal di surga dan hidup bahagia menikmati segala
kenikmatan yang ada didalamnya. Hal ini sebagaimana yang tetulis dalam
al-Qur’an surat al-Baqarah (2) : 35
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ
أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا
تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan Kami berfirman,”hai Adam, diamilah
oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak
lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini,
yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang zalim.”
Dalam ayat diatas
selain diperkenankan tinggal disurga dan menikmati segala yang ada didalamnya,
tapi Allah memberikan pantangan pada keduanya untuk tidak mendekati sebuah
pohon apalagi sampai memakan buahnya. Buahnya dinamakan buah khuldi yang
artinya adalah keabadian. Karena diambil dari ucapan setan yang membisikan
kepada keduanya bahwa jika memakan buah tersebut akan hidup abadi kekal
selama-lamanya. Sebagaimana yang tertulis dalam firman Allah surat al-A’raf
(7): 20-21
فَوَسْوَسَ
لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا
وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا
مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا
لَمِنَ النَّاصِحِينَ
“Maka setan membisikkan pikiran jahat
kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka
yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati
pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak
menjadi orang yang kekal dalam surga”. “sesungguhnya aku adalah termasuk
orang-orang yang memberi nasehat”.
Segala bujuk rayu
setan akhirnya berhasil menggoda Adam dan Hawa untuk memakan buah tersebut.
Yang mengakibatkan keduanya mendapat murka dari Allah SWT. Sebagaimana firman
Allah SWT:
فَدَلَّاهُمَا
بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا
يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ
أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ
لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Maka setan membujuk keduanya (untuk
memakan buah itu), dengan tipu daya, tatkala keduanya telah merasai buah kayu
itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya
dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku
telah melarang Kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan
kepadamu:”Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.
Setelah melanggar
pantangan dari Allah yang mengakibatkan kemurkaan Allah kepada keduanya. Adam
memohon taubat kepada Allah SWT sebagai pengakuan atas dosanya dan memohon agar
diampuni dosa yang telah ia perbuat. Terjadi dialog antara Adam dengan Tuhannya
sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur’an surat al-A’raf (7): 23
قَالَا
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Adam
berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah berbuat aniaya terhadap diri Kami,
karenanya jika Engkau
.tidak
memberi pengampunan dan rahmat kepada kami tentulah Kami tergolong orang-orang
yang zalim”
Allah yang memiliki sifat ar-Rahman akhirnya mengampuni dosa keduanya yaitu Adam dan Hawa. Tapi sebagai hukumannya Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi untuk menjalani hidup dan mengalami kematian disana. Sebagaimana yang tertulis dalam firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah (2): 36
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ
عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ
لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍفَتَلَقَّى
آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ
الرَّحِيمُ
“Lalu keduanya digelincirkan oleh syetan
dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman:
“Turunlah kamu!,..sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain dan bagi
kamu ada tempat kedamaian di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang
ditentukan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah
menerima taubatnya karena Allah Maha menerima taubat dan Maha Pengasih”
Demikianlah kisah Adam dan Hawa mulai dari penciptaan hingga penurunan di keduanya ke bumi.
Demikianlah kisah Adam dan Hawa mulai dari penciptaan hingga penurunan di keduanya ke bumi.
Dalam kisah yang
telah kami paparkan diatas banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil
diantaranya adalah:
1. Allah adalah Zat
yang Maha Kuasa yang baginya tidak ada yang tidak mungkin. Misalkan dari kisah
diatas, Allah menciptakan makhluk yang belum pernah ada sebelumnya yaitu Adam.
2. Manusia mempunyai
kedudukan yang istimewa dibandingkan dengan makhluk Allah yang diciptakan oleh
Allah sebelum penciptaan Adam. Itu terbukti dengan adanya perintah dari Allah
kepada para Malaikat untuk bersujud kepadanya. Maka dari itu kita harus bangga
dan berusaha untuk menjaga status kita sebagai makhluk yang istimewa dengan
cara senantiasa menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-Nya.
3. Dalam menjalani
kehidupan di dunia ini kita tekah di berikan rambu-rambu, mana yang boleh dan
tidak boleh kita lakukan di dunia ini. Rambu-rambu itu sudah diatur oleh
syari’at Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW.
4. Setan adalah musuh yang
nyata bagi manusia karena mereka akan senantiasa menggoda manusia agar berbuat
durhaka kepada Allah. Karena mereka diusir dari surga karena mereka dulunya
enggan untuk sujud kepada Adam. Sehingga mereka senantiasa mencari teman untuk
bersama-sama menghuni neraka dan kekal didalamnya.
5. Sudah menjadi
fitrah manusia selalu berbuat dosa karena manusia memiliki hawa nafsu. Oleh
karena itu kita diajarkan untuk bisa menahan hawa nafsu. Karena akibat dari
mengikuti hawa nafsu adalah akan mendatangkan kemurkaan dari Allah SWT.
6. Jika memang sudah
terlanjur berbuat dosa jangan lantas berputus asa, apalagi malah terus-menerus
mengrjakan dosanya. Segeralah bertaubat kepada Allah SWT, karena Allah selalu
menerima taubat hamba-Nya. Asal taubat itu adalah taubat yang sungguh-sungguh.
Yaitu menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan kemudia bertekad untuk
menjauhi dan tidak akan berbuat dosa lagi. Kemudian meningkatkan ibadah
agar mendapatkan pahala yang bisa menghapuskan dosa-dosa yang telah dilakukan
di masa lalu.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللهُمَّ
اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ , دِقَّهُ وَجُلَّهُ , أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ,
وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ
اللهُمَّ
اغْفِرْ لِي مَا أَخْطَأْتُ , وَمَا عَمَدْتُ , وَمَا عَلِمْتُ , وَمَا جَهِلْتُ
رَبِّ
اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَوَسِّعْ لِي ذَاتِي وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
D. DAFTARPUSTAKA
Al-Bukhari, Shaih al-Bukhāri, (Dāruthuq an-Najjah T.T.)
Al-Qur’an Al-Karim
Al-Qur’an dan Terjemahnya
Ibnu Kaśir, Tafsîr al-Qur’an al-‘Aẓîm Lebanon: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibnu Kaśir, Kisah Para Nabi, penerjemah, M. Abdul Ghoffar, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.
Al-Bukhari, Shaih al-Bukhāri, (Dāruthuq an-Najjah T.T.)
Al-Qur’an Al-Karim
Al-Qur’an dan Terjemahnya
Ibnu Kaśir, Tafsîr al-Qur’an al-‘Aẓîm Lebanon: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibnu Kaśir, Kisah Para Nabi, penerjemah, M. Abdul Ghoffar, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.
Kajian Tentang Kematian
KEMATIAN
A.
Makna
dan Term Searti Kematian
a. Makna Kematian
1. Etimologi
Kematian dalam
bahasa arab disebut al-maut yang berarti akhir kehidupan di dunia atau
keluarnya ruh dari jasad atau tidak adanya nyawa dalam tubuh biologis.
2. Terminologi
Kematian ialah fenomena yang murni
berkenaan urusan jasmani sebagai proses berkesinambungan dengan kehidupan
berikutnya.
3. Terma
Yang Searti dengan Kematian
1. Al-Ajal (QS.
Yunus/10 : 49
49.
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula)
kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah".
tiap-tiap umat mempunyai ajal[696]. apabila telah datang ajal mereka, Maka
mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula)
mendahulukan(nya).
[696] Yang
dimaksud dengan ajal ialah, masa keruntuhannya.
QS. Al-Munafiqun/63 : 11
11. dan Allah sekali-kali tidak akan
menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan
Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.
2. Al-Yaqin (QS.)
3. Al-Wafāt
(QS. Al-Sajdah/32
: 11)
11. Katakanlah: "Malaikat maut yang
diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada
Tuhanmulah kamu akan dikembalikan."
B.
Macam-Macam
Kematian
a. Mati
Syāhid (Ali Imran/3 : 142-143)
b. Mati
dalam Berhijrah (Al-Hajj/22 : 58)
c. Mati
Tidak Syāhid/Mati Fasik (Al-Taubah/9 : 84, 125) dan Mati Kafir (Al-Baqarah/2 :
161, Ali Imran/3 : 91, 157&158)
C.
Keberadaan, Karakteristik,
dan Kedudukan Kematian
a. Keberadaan
Kematian
1. Mati
Sesuatu yang Pasti atau Sunnatullah (Al-Anbiyā`/21 :
34, )
2. Mati
adalah Takdir. (Ali Imran/3 : 145, 156)
3. Mati
adalah digenggamnya Jiwa oleh Allah. (QS. Al-Zumar/39 : 42)
4. Mati
adalah dicabutnya keledzatan
5. Mati
Bagaikan Pintu (Maryam/19 : 66)
6. Mati
adalah hilangnya panca indra. (QS. Maryam/19 : 21)
7. Mati
adalah ketersesatan atau tidak berfungsinya potensi indra dan fikiran, serta
hati manusia sebagaimana mestinya. (QS. Al-An’am/6 : 122)
8. Mati
keluar dari kehidupan. (QS. Al-Rum/30 : 19)
b. Karakteristik
Kematian
1. Mati
terjadi tepat waktu. (QS. Al-Munafiqun/63 : 11),
2. Mati
terjadi tiba-tiba. (QS. Luqman/31 : 34)
3. Mati
selalu menjemput makhluk. (QS. Ali Imran/3 : 154, QS. Al-Nisa`/4 : 78, QS.
Ibrahim/14 : 17, QS. Al-Jum’ah/62 : 8)
c. Kedudukan
Kematian
1. Mati
adalah Makhluq. (QS. Al-Muluk/67 : 2)
2. Mati
adalah Pintu
3. Penasihat
Manusia
4. Bahan
Renungan
D.
Tujuan Dan Hikmah
Kematian
a. Tujuan Kematian
1. Menseleksi
Manusia yang Terbaik Amalnya
2. Menentukan
Nasib Manusia
3. Membuktikan
Amal Pribadi
b.
Hikmah Kematian
1. Istikomah
Iman (Belief System)
2. Berlomba
Beramal Kebaikan
3. Menambah
Kepatuhan
E.
Relasi Kematian
dan Kehidupan
a. Kehidupan
menjadi media mempersiapkan diri menghadapi kematian
b. Kehidupan merupakan tempat bercocok
tanam dan kematian tempat memanen
1.
QS. Al-Sajdah/32
: 11
Artinya: Katakanlah: "Malaikat
maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya
kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan. (QS. Al-Sajdah/32 : 11)
2.
QS.
Al-Munafiqun/63 : 11
Artinya: dan Allah sekali-kali tidak
akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya.
dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun/63 : 11)
Langganan:
Postingan (Atom)



